Rabu, 22 Oktober 2014
PENDEDERAN I GURAMEH SUPER INTENSIF
SUGIARTO,SST. DINLUTKAN KEBUMEN
PENDEDERAN I GURAMEH SUPER INTENSIF
Trend pangsa pasar ikan gurameh konsumsi tergolong tinggi dan stabil dalam beberapa dekade ini. Hal tersebut berimbas pada stabilnya permintaan benih gurami hasil pendederan yang juga tinggi. Permintaan benih gurami yang tinggi merupakan suatu peluang usaha yang dapat meningkatkan income bagi kita.
Dalam pendederan gurameh permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya padat tebar dalam pendederan. Secara umum pendederan dibagi dalam beberapa tahap antara lain:
- Pendederan I (oyongan) dari menetas hingga mencapai bobot 10-15
- Pendederan II (kuku) dari oyong hinga mencapai bobot 30 gram
- Pendederan III (silet) dari kuku hingga mencapai bobot 50 gram
- Pendederan IV (korek) dari silet hinga mencapai bobot 75 gram
- Pendederan V (bungkus rokok) dari korek hingga mencapai bobot 150 gram
Beberapa sumber menyebutkan padat tebar Pendederan I gurameh berkisar antara 30-100 ekor permeter2 dengan kedalaman air 30-40 cm. Hal tersebut berakibat rendahnya produksi pendederan persatuan luas. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pendederan I secara tradisional maupun semi intensif bila dengan menggunakan padat tebar antara 250-350 ekor/m2 adalah tingginya angka kematian benih sehingga mortalitas benih mencapai 75-50%.
Pendederan Gurami Super Intensif adalah upaya mendederkan gurami dengan padat tebar 150-200 ekor/m2dengan kedalaman air 40 cm. Adapun persiapan yang harus dilakukan dalam pendederan gurameh super intensif adalah
A. Persiapan Kolam Pendederan Gurame
Luas kolam pendederan yang dipakai 10-12 meter persegi. Kolam pendederan dapat berupa kolam plastik, kolam terpal, kolam permanen. Kolam diisi dengan air dengan ketinggian 25cm dibiarkan selama lima hari dan ditambah ketinggian airnya setelah 10 hari hingga 40 cm.
B. Penebaran Benih
Setelah kolam siap, benih ditebar pada pagi atau sore hari untuk mencegah stres. Sebelum ditebar, benih diadaptasikan terlebih dulu dengan air kolam. Caranya, biarkan wadah mengapung di permukaan air kolam sehingga terjadi penyesuaian suhu. Setelah itu, buka wadah agar benih keluar dengan sendirinya dan maberksuk ke kolam. Langkah adaptasi ini perlu dilakukan agar gurami tidak stres ketika masuk kolam baru.
C. Pemberian Pakan
Benih gurameh pada usia 14-20 hari mengalami peralihan pasokan nutrisi dari kuning telur yang ada dalam perut benih ikan beralih dari pakan. Pada usia itu bersifat karnivora dengan mengkonsumsi udang renik seperti moina, dapnia, infusoria, artemia dll. Sebagian pembudidaya menggunakan rebusan kuning telur yang dihancurkan. Ketersediaan pakan pada usia ini sangat penting. Kekurangan dan keterlambatan ketersedian pakan akan menyebabkan kematian. Hal ini bisa di mengerti karena ukuran benih gurameh kecil sehingga metabolisme dalam tubuh cepat sehingga kebutuhan nutrisi lebih kontinyu.
Ikan gurami di pendederan I dapat diberi pakan berupa cacing sutra, artemia maupun daphnia yang jumlahnya tergantung. Untuk pakan 1000 ekor dapat diberi pakan cacing sutra sebanyak 1 gelas selama 3 hari.
D. Sirkulasi air
Sirkulasi air dilakukan setelah benih gurameh 20 hari dikolam pendederan. Tujuan sirkulasi air adalah upaya menetralisir amoniak dan nitrit dalam kolam pendederan I. Disamping dengan adanya sirkulasi air kandungan oksigen dalam air akan menjadi merata. Alat sirkulasi air dapat berupa pompa akuarium yang dapat kita modifikasi sehingga tercipta sirkulasi air.
E. Penyiponan
Penyiponan dilakukan secara berkala setiap minggu. Lumpur, kotoran ikan, sisa pakan akan terakumulasi dan menimbulkan serta mengikat gas sulfur maupun amoniak sehingga membahayan kesehatan benih ikan yang dapat menyebabkan kematian. Penyiponan dilakukan dengan menyedot kotoran dengan menggunakan selang. Penyiponan dilakukan dengan hati-hati sehingga benih ikan tidak tersedot terikut bersama kotoran.
F. Pergantian Air
Air di kolam pendederan I diusahakan diganti sebanyak 25-%50% setiap 2 minggu. Hal ini merupakan upaya menjamin kualitas air meskipun kita telah melakukan sirkulasi dan penyiponan. Adapun jumlah tersebut bertujuan agar ikan tidak mengalami stress sehingga pertumbuhannya normal.
G. Stabilisasi pH
Pada saat saat tertentu upaya stabilisasi pH perlu dilakukan misalnya setelah hujan lebat. Seperti kita ketahui air hujan mempunyai nilai pH yang rendah. pH yang rendah akan sangat mengancam kesehatan ikan, berbagi akibat karena rendahnya pH akan di alami oleh benih bisa berupa sirip yang rusak, kulit kemerahan , insang yang lukan hingga kematian. Stabilisasi pH dapat dilakukan dengan cara membuat larutan kapur sebanyak 5 kg dengan air 50 liter dan mengendapkannya sehingga jernih dan memasukan air endapan tersebut ke kolam pendederan.
Langganan:
Postingan (Atom)